“Badan gemuk tanda hidup gw happy!”.Dulu, pameo tersebut seakan menjadi ‘senjata’ kala seseorang sedang diejek atau di-bully oleh lingkungan sekitar. Berbadan besar atau di atas normal memang sebuah cobaan.

Oleh :TatuRatna Sari, S.Farm., Apt

“Badan gemuk tanda hidup gw happy!”.Dulu, pameo tersebut seakan menjadi ‘senjata’ kala seseorang sedang diejek atau di-bully oleh lingkungan sekitar. Berbadan besar atau di atas normal memang sebuah cobaan.

Cobaannya bukan hanya karena ejekan yang bertubi-tubi dari teman sekitar, tetapi cobaan bagi mereka agar terbebas dari serangan penyakit yang biasanya nemplok pada orang-orang berbadan besar apalagi super besar.

Obesitas atau kegemukan bukan lagi menyoal ‘kebanyakan makan’ atau malas gerak, tetapi sudah berhubungan dengan gaya dan budaya hidup. Mulai dari pola makan, aktifitas gerak, hingga metabolisme tubuh itu sendiri.Bahkan angka pengidap obesitas tiap tahun selalu meningkat, baik tu di negara maju, maupun negara berkembang.Tak peduli, apakah itu sikaya atau simiskin, sikota dan sidesa. Kini, OB alias obesitas sudah menjadi fenomena.

Obesitas memang harus dihindari karena terbukti memicu beragam penyakit, salah satunya kanker.Bahkan sebuah studi mengatakan, obesitas mampu meningkatkan risiko seseorang untuk terserang 13 jenis kanker.

Obesitas adalah proporsi lemak tubuh yang berlebihan.Seseorang biasanya dikatakan obesitas jika beratnya 20% atau lebih di atasberat normal.Lalu bagaimana cara mengetahuinya? Cara yang umum digunakan adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index/BMI) dengan rumus: Berat badan (kg) / (Tinggi badan (meter))2. Berat yang normal adalah jika indeks massa tubuhnya berada pada kisaran 18,5 – 24,9; berat badan berlebih jika indeksnya 25 – 29,5; dikatakan obesitas jika indeksnya di atas 30.

Mengapa obesitas dikaitkan dengan kanker? Ada sejumlah teori yang mencoba menjelaskan, di antaranya:
- Jaringan lemak dapat menghasilkan jumlahkelebihan hormon tertentu yang dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel normal.
- Obesitas dapat menyebabkan peradangan pada jaringan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko jaringan tersebut menjadi kanker.
- Lemak bisa mengganggu langkah protein yang dirancang untuk menjaga pertumbuhan sel.

Penelitian terbaru dari Korea Selatan juga mengatakan seseorang yang mengalami kegemukan rentan didiagnosis dengan2 kanker jenis lain dalam waktu yang tak berjauhan.Fakta ini diperoleh setelah peneliti mengamati 240.000 penyintas kanker pria selama tujuh tahun.Mereka menemukan, pria yang gemuk (dengan indeks massa tubuh di atas 30) ketika pertama kali didiagnosiskan kerberisiko 42 persen lebih besar untuk didiagnosis kanker lagi (kanker sekunder) 1-2 tahun kemudian.Ini artinya seorang pria gemuk bisa mengalami dua kanker sekaligus dibanding mereka yang indeks massa tubuhnya normal.

Jenis kanker yang kerap ditemukan menjadi kanker sekunder adalah kanker kolorektal (ususbesar), hati, tiroid, prostat, danginjal."Ini karena membawa terlalu banyak lemak ekstra dapat memicu peradangan kronis di tubuh, yang dapat menyulut perkembangan sel-sel kanker," jelas ketua tim peneliti, Park Sang Min, MD dari Seoul National University College of Medicine.Park menambahkan, makin banyak jaringan lemak yang menumpuk, makin bertambah pula kadar hormon insulin atau estrogen yang dihasilkan tubuh. Padahal keduanya juga dikenal mampu mendorong perkembangan sel-sel kanker dalam tubuh.

Lantas mengapa bisa muncul jenis kanker sekunder yang sama sekali berbeda dengan jenis kanker yang pertama terdiagnosis?.Ini bukan hanya karena tubuh terus dihadapkan pada peradangan yang terjadi.Pengobatan jenis kanker yang pertama juga membuat sistem imun menjadi stres, sehingga semakin meradang dan membuat tubuh semakin rentan untuk terjadinya kanker sekunder.

Untuk itu sangat perlu menjaga berat badan agar tetap ideal. Cara yang paling mudah dilakukan adalah dengan mengatur pola makan, 80% buah dan sayur; 20% nasi dan lauk pauk. Asupan buah-buahan dan sayuran yang cukup juga akan mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh sehingga proses regenerasi dan perbaikan sel berjalan optimal. Diharapkan dengan merubah pola hidup dan olahraga yang cukup, maka sistem imun akan semakin kuat dalam mengatasi serangan sumber penyakit.

(AF)

Penyakit diabetes dapat menyebabkan komplikasi seperti impotensi, jantung, stroke, gangguan ginjal, kerusakan syaraf, luka diabetes, hingga berujung amputasi. Hasil Uji Klinik SoMan di UGM menunjukkan, obat herbal SoMan dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan penyakit penyerta, sehingga direkomendasikan sebagai obat untuk penyakit diabetes
soman, obat herbal, obat herbal diabetes, hidup sehat,penyakit diabetes, obat diabetes, jamu tetes, daya tahan tubuh, menjaga kesehatan, imun, multivitamin, kesehatan