Wednesday, 20 December 2017 00:00

Ini Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Gejala dan Penanganan Difteri!

Rate this item
(1 Vote)

Interesting blog? Like it on Facebook, +1 on Google, Tweet it or share this article on other bookmarking websites.

Oleh : Ariana Dewi,S.Gz

Penyakit difteri sedang menyita perhatian, khususnya para orang tua yang memiliki balita ataupun anak usia pra sekolah. Telah banyak daerah di Indonesia yang melaporkan kasus difteri. Hingga kini, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menetapkan wabah ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Tergolong penyakit menular, difteri disebabkan oleh infeksi di selaput lendir hidung dan tenggorokan. Bakteri yang menginfeksi bernama Corynebacterium diphtheriae. Jika dibiarkan, difteri dapat menyebabkan komplikasi pada ginjal, sistem saraf, dan jantung.

Penyakit difteri biasanya ditandai dengan rasa sakit di tenggorokan, demam, lemas, hingga terjadi pembengkakan kelenjar getah bening. Namun, gejala khas dari difteri adalah munculnya sebuah selaput berwarna putih keabuan di sekitar bagian belakang tenggorokan. Selaput ini bernama pseudomembran yang dapat berdarah jika dikelupas. Kondisi ini mungkin akan menyebabkan rasa sakit saat menelan. Pada beberapa kasus, gejala ini akan disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening dan pembengkakan jaringan lunak di leher yang disebut bullneck.

Waspadalah, karena kuman difteri dapat menyebar dengan cepat dari satu orang ke orang lain. Salah satunya adalah melalui kontak langsung objek yang mengandung bakteri, seperti berbagi cangkir minuman, atau penggunaan sapu tangan yang sama. Anda juga dapat terinfeksi penyakit tersebut jika ada penderita difteri di sekitar Anda yang bersin, batuk, atau keluar ingus dari hidung. Meskipun orang yang terinfeksi difteri belum menunjukkan tanda dan gejala, orang tersebut tetap mampu menularkan difteri sampai dengan 6 minggu setelah infeksi awal.

Faktor Risiko Difteri

Anak-anak seharusnya rutin mendapatkan vaksinasi difteri, sehingga risiko terjangkit  akan lebih kecil. Penyakit difteri dapat ditemukan terutama pada anak di bawah usia 5 tahun dan orang tua di atas usia 60 tahun.

Orang-orang yang memiliki peningkatan risiko Difteri:
• Tidak mendapatkan vaksinasi terbaru
• Mengunjungi negara yang tidak menyediakan imunisasi terhadap difteri
• Memiliki gangguan imunitas
• Gaya hidup yang tidak sehat atau sanitasi yang buruk

Difteri adalah penyakit yang mengerikan karena dapat menyebabkan kematian. Penderitanya sering mengalami kesulitan bernafas atau menelan. Bakteri penyebab difteri bekerja dengan cara membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan dengan racun yang ia hasilkan, sehingga sel-sel tersebut mati. Kumpulan sel mati ini kemudian membentuk lapisan abu-abu pada tenggorokan. Racun dari bakteri juga dapat menyebar ke aliran darah, sehingga menyebabkan jantung , ginjal dan sistem saraf menjadi rusak.

Untuk menanggulangi wabah difteri, pemerintah Indonesia telah mengadakan pemberian ORI (Outbreak Response Immunization) atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri.

Bagaimana pencegahannya?
Difteri dapat dicegah dengan vaksinasi dan menjaga daya tahan tubuh tetap prima. Pemberian vaksin DPT dilakukan sebanyak 5 kali, yaitu ketika anak berumur 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Jika anak terlambat diberikan imunisasi, anak masih bisa diberikan imunisasi kejaran sesuai anjuran dokter sebelum usianya 7 tahun.

Ingat ya Mitra Sehat, kekebalan terhadap difteri tidak berlangsung seumur hidup. Rekomendasi untuk tetap menjaga tubuh dari bakteri penyebab penyakit adalah dengan cara vaksin ulang setiap 10 tahun selama seumur hidup.

Tambahkan juga Herbal SoMan yang dapat  membantu meningkatkan daya tahan tubuh Anda agar terlindung dari beragam penyakit. Herbal SoMan telah lama dikenal sebagai herbal yang diperoleh dari proses ekstraksi 39 bahan alam, terdiri dari 18 macam buah, 14 sayur-sayuran, dan 7 aneka rempah terpilih. Variasi buah, sayur, dan rempah yang menjadi bahan baku SoMan menghasilkan Zat Fitonutrien yang bersifat sebagai serat alami, antioksidan, antibiotik alami, anti-inflamasi, dan analgesik (anti nyeri), sehingga punya peran penting dalam membantu proses pencegahan penyakit.

Cukup minum Herbal SoMan dengan dosis 7 tetes 3x sehari untuk daya tahan, atau 10 tetes 3x sehari untuk membantu mempercepat proses pemulihan penyakit. Ingatlah untuk selalu mengonsumsi makanan bergizi dan jangan lupa berolahraga agar daya tahan tubuh tetap prima.
Penyakit diabetes dapat menyebabkan komplikasi seperti impotensi, jantung, stroke, gangguan ginjal, kerusakan syaraf, luka diabetes, hingga berujung amputasi. Hasil Uji Klinik SoMan di UGM menunjukkan, obat herbal SoMan dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan penyakit penyerta, sehingga direkomendasikan sebagai obat untuk penyakit diabetes
soman, obat herbal, obat herbal diabetes, herbal soman, hidup sehat,penyakit diabetes, obat diabetes, jamu tetes, daya tahan tubuh, menjaga kesehatan, imun, multivitamin, kesehatan

Interesting blog? Like it on Facebook, +1 on Google, Tweet it or share this article on other bookmarking websites.

Read 617 times